Perampokan Di Rumah Tutik 3

Tiba-tiba Mr. Gulam melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Tutik yang masih terduduk di tepi meja, ditariknya Tutik dari atas meja dan kemudian Mr. Gulam gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Tutik ke bawah, sehingga sekarang posisi Tutik berjongkok di antara kedua kaki berbulu Mr. Gulam dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Tutik sudah tahu apa yang diinginkan Mr. Gulam, namun tanpa sempat berpikir lagi, tangan Mr. Gulam telah meraih belakang kepala Tutik dan dibawa mendekati kejantanan Mr. Gulam, yang sungguh luar biasa itu.Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Tutik, kepala penis Mr. Gulam telah terjepit di antara kedua bibir mungil Tutik, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Tutik mulai mengulum alat vital Mr. Gulam ke dalam mulutnya, hingga membuat lelaki India itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Tutik yang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Tutik hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan Tutik bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah Tutik menyapu kepalanya.Beberapa saat kemudian Mr. Gulam melepaskan diri, ia mengangkat badan Tutik yang terasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas meja dengan pantat Tutik terletak di tepi meja, kaki kiri Tutik diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian Mr. Gulam mulai berusaha memasuki tubuh Tutik.

Tangan kanan Mr. Gulam menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepala penisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada clitoris dan bibir kemaluan Tutik, hingga Tutitk merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Mr. Gulam terus berusaha menekan senjatanya ke dalam kemaluan Tutik yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Mr. Gulam yang besar itu.Pelahan-lahan kepala penis Mr. Gulam itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan Tutik. Ketika kepala penis lelaki India itu menempel pada bibir kemaluannya, Tutik merasa kaget ketika menyadari saluran vaginanya ternyata panas dan basah. Ia berusaha memahami kondisi itu, namun semua pikirannya segera lenyap, ketika lelaki itu memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan Tutik yang sedang gamang dan gelisah itu, dengan kasar Mr. Gulam tiba-tiba menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Tutik, rambut lebat pada pangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Tutik yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang penisnya amblas ke dalam liang vagina Tutik. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Tutik terdengar jeritan halus tertahan, "Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh", disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Tutik mencengkeram dengan kuat pinggang Mr. Gulam.

Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diri Tutik, hingga badannya mengejang beberapa detik.Mr. Gulam cukup mengerti keadaan Tutik, ketika dia selesai memasukkan seluruh batang penisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Tutik untuk bisa menyesuaikan dengan penisnya yang besar itu. Tutik mulai bisa menguasai diri. Beberapa saat kemudian Mr. Gulam mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki India itu bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Tutik berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja. Tutik mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah gelap lelaki India yang sedang menatapnya, dengan takjub. Tutik berusaha bernafas dan …:" "Paak..., aahh..., ooohh..., ssshh", sementara pria tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.Tutik sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Mr. Gulam menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuat Tutik melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kali Mr. Gulam menarik penisnya keluar, Tutik merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Mr. Gulam menekan masuk penisnya ke dalam vagina Tutik, maka klitoris Tutik terjepit pada batang penis Mr. Gulam dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penis Mr. Gulam yang berurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Tutik menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Lelaki tersebut terus menyetubuhi Tutik dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Tutik dan meremas-remas kedua payudara Tutik secara bergantian. Tutik dapat merasakan puting susunya sudah sangat mengeras, runcing dan kaku. Tutik bisa melihat bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki India itu keluar masuk ke dalam liang kemaluannya yang sempit. Tutik selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Mr. Gulam yang super besar itu. Tutik menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki India itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Mr. Gulam terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.Lalu tiba-tiba Tutik merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan ketika bersetubuh dengan suaminya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan.

Tutik merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam vaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Ia ingin menangis karena tidak ingin itu terjadi dalam suatu persetubuhan yang sebenarnya ia tidak rela, yang merupakan suatu perkosaan itu. Ia yakin sebentar lagi ia akan ditaklukan secara total oleh monster India itu. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram tepi meja, ia menggigit bibirnya, memohon akal sehatnya yang sudah kacau balau untuk mengambil alih dan tidak membiarkan vaginanya menyerah dalam suatu penyerahan total.Tutik berusaha untuk tidak menanggapi lagi. Ia memiringkan kepalanya, berjuang untuk tidak memikirkan percumbuan lelaki tersebut yang luar biasa. Akan tetapi..., tidak bisa, ini terlalu nikmat..., proses menuju klimaks rasanya tidak dapat terbendung lagi. Orgasmenya tinggal beberapa detik lagi, dengan sisa-sisa kesadaran yang ada Tutik masih mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini adalah suatu pemerkosaan yang brutal yang sedang dialaminya dan tak pantas kalau dia turut menikmatinya, akan tetapi bagian dalam vaginanya menghianatinya dengan mengirimkan signal-signal yang sama sekali berlawanan dengan keinginannya itu, Tutik merasa sangat tersiksa karena harus menahan diri.akhirnya sesuatu melintas pada pikirannya, buat apa menahan diri?, Supaya membuat laki-laki ini puas atau menang?, persetan, akhirnya Tutik membiarkan diri terbuai dan larut dalam tuntutan badannya dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, "Ooooh..., ooooooh..., aahhmm..., ssstthh!". Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan..., akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan.

Tutik terkulai lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penis hitam besar Mr. Gulam tetap terjepit di dalam liang vaginanya.Selama proses orgasme yang dialami Tutik ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Mr. Gulam, dimana penisnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang vagina Tutik dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepala penisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Tutik, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. Perasaan Mr. Gulam seakan-akan menggila melihat Tutik yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu.Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Mr. Gulam membalik tubuh Tutik yang telah lemas itu hingga sekarang Tutik setengah berdiri tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah Mr. Gulam. Mr. Gulam ingin meyodomi Tutik rupanya. Tangan lelaki India itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah payudara Tutik yang kini menggantung ke bawah. Dengan kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan lelaki tersebut menggosok-gosok kepala penisnya yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam vagina Tri pada permukaan lubang anus Tutik yang menimbulkan suatu sentakan kejutan pada seluruh badan Tutik, kemudian menempatkan kepala penisnya pada lubang anus Tutik dari belakang.Dengan sedikit dorongan, kepala penis tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir anus Tutik yg sempit.

Kedua tangan Mr. Gulam memegang pinggul Tutik dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan Tutik tidak terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki Tutik dikaitkan pada paha laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut menarik pinggul Tutik ke arahnya, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Tutik, "Oooooooh!", penis laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam lubang anus Tutik dan Mr. Gulam terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang bebulu lebat itu menempel ketat pada pantat Tutik yang setengah terangkat. Selanjutnya dengan ganasnya Mr. Gulam memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang anus Tutik yang ketat itu. kini Tutik kewalahan menghadapi Mr. Gulam yang ganas dan kuat itu. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia melakukan aktivitasnya dengan tempo permainan yang masih tetap tinggi dan semangat tetap menggebu-gebu.Kemudian Mr. Gulam merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi yang tidak berlengan dan Tutik ditariknya duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuan Mr. Gulam. Mr. Gulam menempatkan penisnya tetap pada bibir anus Tutik dan mendorongnya sehingga kepala penisnya masuk terjepit dalam liang dubur Tutik, sedangkan tangan kiri Mr. Gulam memeluk pinggul Tutik dan menariknya merapat pada badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penis Mr. Gulam menerobos masuk ke dalam anus Tutik. Tangan kanan Mr. Gulam memeluk punggung Tutik dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan Tutik melekat pada badan Mr. Gulam.

Kedua buah dada Tutik terjepit pada dada Mr. Gulam yang berambut lebat itu dan menimbulkan perasaan geli yang amat sangat pada kedua puting susunya setiap kali bergesekan dengan rambut dada Mr. Gulam. Kepala Tutik tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dengan bebasnya mulut Mr. Gulam bisa melumat bibir Tutik yang agak basah terbuka itu.Tutik mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga penis yang besar itu seakan mengaduk-aduk dalam duburnya sampai terasa di perutnya tangan Gulam dg brutal menggocok vagina Tutik. Tak berselang kemudian, Tutik merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus..., terus..., Tutik tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, Tutik tak peduli lagi, "Aaduuuh..., eeeehm", Tutik memekik lirih sambil menjambak rambut laki-laki yang memeluknya dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuan Mr. Gulam. Sungguh hebat rasa kenikmatan orgasme kedua yang melanda dirinya. Sungguh ironi memang, gadis ayu yang lemah gemulai itu mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan suaminya, akan tetapi dengan orang asing yang sedang memperkosanya.Kemudian kembali laki-laki itu menggendong dan meletakkan Tutik di atas meja dengan pantat Tutik terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai.

Mr. Gulam mengambil posisi diantara kedua paha Tutik yang ditariknya mengangkang, dan dengan tangan kanannya menuntun penisnya ke dalam lubang vagina Tutik yang telah siap di depannya. Laki-laki itu mendorong penisnya masuk ke dalam dan menekan badannya setengah menindih tubuh Tutik yang telah pasrah oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Mr. Gulam memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Tutik yang terkapar lemas di atas meja.Sementara lelaki India itu terus berpacu diantara kedua paha Tutik, badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan penis lelaki tersebut. Tutik benar-benar telah KO dan dibuat permainan sesukanya oleh si India yang perkasa itu. Tutik kini benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram tepi meja untuk menjaga keseimbangannya. Lelaki itu melihat ke arah jam yang terletak di dinding ruangan kerja tersebut, jam telah menunjukan pukul 13.40, berarti telah 1 jam 40 menit dia menggarap gadis ayu tersebut dan sekarang dia merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam penisnya yang menimbulkan perasaan geli pada ujung penisnya.Lelaki tersebut mengeram panjang dengan suara tertahan, "Agh..., terus", dan disertai dengan suatu dorongan kuat, lelaki itu mencabut kemaluannya dan menarik Tutik untuk berlutut dihadapannya, Dengan suatu lenguhan panjang, "Sssh..., ooooh!", lelaki India tersebut menyemprotkan spermanya kedalam mulut Tutik. Ada kurang lebih lima detik lelaki tersebut menumpahkan spermanya di mulut gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhnya bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Tutik yang telah terkapar lemas tak berdaya itu hanya pasrah menerima semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat lelaki tersebut yang menyiram ke seluruh rongga tenggorokannya.

Tutik nyaris muntah mendapati begitu banyak sperma yang tertelan dan sebagian mengalir keluar melalui sela-sela bibir nya itu.Setelah kurang lebih 3 menit keduanya memasuki masa tenang dengan posisi tersebut, secara perlahan-lahan Mr. Gulam mencabut kemaluannya dari mulut Tutik, mengambil tissue yang berada di samping meja kerja dan mulai membersihkan ceceran air maninya yang mengalir keluar dari bibir Tutik. Setelah bersih Mr. Gulam menarik tubuh Tutik yang masih terkapar lemas di atas meja untuk berdiri dan memasang kembali kancing-kancing bajunya yang terbuka. Setelah merapikan baju dan celananya, Mr. Gulam menarik badan Tutik dengan lembut ke arahnya dan memeluk dengan mesra sambil berbisk ke telinga Tutik, "Maafkan saya manis..., terima kasih atas apa yang telah kau berikan tadi, biarpun kudapat itu dengan sedikit paksaan!", kemudian dengan cepat Mr. Gulam Singh keluar dari ruangan kerja Tutik dan membuka pintu keluar yang tadinya dikunci, setelah itu cepat-cepat kembali ke lantai 26. Jam menunjukan 13.55.Sepeninggalan Mr. Gulam, Tutik terduduk lemas di kursinya, seakan-akan tidak percaya atas kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, terbesit perasaan malu dalam dirinya, karena dalam hati kecilnya dia mengakui turut merasakan suatu kenikmatan yang belum pernah dialami serta dibayangkannya. Kini hal yang diimpikannya benar-benar menjadi kenyataan. Dalam pikirannya timbul pertanyaan apakah bisa? sepuas tadi bila dia berhubungan dengan suaminya, setelah mengalami persetubuhan yang sensasional itu.