Percintaan Antara Affai Dengan Penulis 2

"Ssff.. wwuhh..", desahnya tertahan.
"Cleo, can I touch yours?", nadanya sangat berharap.
Aku sendiri sudah lapar dengan sentuhan lelaki.
"Sure.., my pleasure"
"Oohh.. so wett..", jarinya mulai menjamah klitoris dan vaginanya dari balik CD.
Aku menggelinjang keenakan. Bikin penasaran, semakin menambah gerakan badanku, menggesek-gesek lebih cepat. Sedangkan tangannya yang lain meremas-remas dadaku. Tanganku bertumpu di lututnya. Nafasnya kudengar berubah penuh nafsu birahi. Aku nggak tahan lagi. Kubalikkan badanku. Terbawa gairah yang membara, kujilat mukanya.Tak beraturan. Kukecup, kujilat. Tak kupikirkan lagi. Aku ingin melepaskan hasrat seks yang telah terbenam lama.

Dio ikut terbawa nafsuku, "Lick me..lick me..", di tengah-tengah jilatanku.
Kujilat kupingnya, kugigit perlahan. Aku isap sekeras-kerasnya. Kujilat bibirnya tanpa mencium. Bergerak-gerak nakal..
"Go down.. go down girl ..", pintanya semakin bergairah
Aku jilat lehernya dengan penuh nafsu. Semakin turun, kujilat dadanya. Gigit kecil putingnya.
"Ssff.., Cleoo.. aaugghh.. more.. moree"

Kujilat juga perutnya. Semakin ke bawah, masih ada celana panjang mengganggu keasyikkanku. Sambil berlutut, kubuka secara acak, tergesa-gesa, terburu-buru, ingin segera mendapatkan yang ada di baliknya. Kubuka juga CD nya. Woowww.., sudah membesar dan mengeras. Aku teruskan menjilat. Jilatanku tidak langsung ke batangnya. Kujilat halus bawah perutnya. Kuangkat batangnya, dekatkan ke perut. Kujilat buahnya. Kukulum halus, kubiarkan di dalam mulut tanpa hisapan.

"Aaghh..", jerit Dio keenakan.
Kubuka kakinya lebih lebar. Kujilat terus buahnya.
"Uuhh..", Dio mendesah sambil mengelus-elus rambutkku.
"Want me to lick your dick?", tanyaku dengan tatapan birahi
"Pleassee.."
Kuambil batangnya, kujilat sehalus mungkin. Kunikmati centi demi centi.
"Auwww.., so warmm.."
Kujilati belahan kepalanya. Kembali ke batang. Puas sudah menjelajahi, jilatanku berubah menjadi jilatan rakus. Kujilat kacau, kumasukan batangnya dalam-dalam ke mulut.

"Aauugghh.."
Keluar, Masuk, keluar, Masuk, keluar, Masuk.
"Suck it.. suck it..", pintanya
Permintaannya malah membuatku garang, kuisap sekeras-kerasnya. Serakus-rakusnya.
"Goodd.., " Dio semakin terhempas ke alam kenikmatan.
Dipegangnya kepalaku. Kuikuti maunya. Kubiarkan dia menyetir kecepatan keluar Masuk. Ditekan-tekannya. Semakin lama semakin masuk menyentuh dinding belakang mulutku.
"Yeaahh.., " Dio semakin tergila akan gerakannya sendiri.
"Sshh.., STOPP! I'm going to cum in your mouth!"
"Pleasee pleasee pleasee..", aku merengek ingin terus.
"Allrightt.., another minute"
"Pleassee.."
"You want it..here!I fuck your mouth.."

Dio semakin mempercepat tekanan tangannya di kepalaku. Didorong-dorongnya. Kuusahakan lidahku juga bergeser di batangnya. Oouughh.., nikmatnya. Semakin lama semakin basah mulutku, ludahku berjatuhan keluar dari mulut. Gerakan tangannya di rambutku juga semakin tidak beraturan.
"Fuck.. fuckk.. fuckk.. you really really a BAD GIRL.. BITCH.. COCK EATER!"
Bukannya kelelahan ataupun marah, aku malah terbawa hanyut pekikannya. Ucapan-ucapannya semakin membuatku tergila-gila. Ingin kutelan rasanya.

Sesaat kemudian, Dio menghentikan permainannya. Puas dengan apa yang baru saja diperbuat, dibawanya aku ke tempat tidur. Dio merebahkan badan, dan meminta aku berlutut di atas mukanya. Cd ku masih kupakai. Dimainkannya jari ke samping CD. Diusap-usap. Membuat aku semakin penasaran. Badanku bergoyang menahan sensasi. Kuremas-remas dadaku, sembarangan. Aku sudah hilang kesadaran, hanya gairahku yang mengontrol gerakanku. Dio memasukan jarinya dari balik CD ke lubangku yang basah. Digoyang-goyangnya di dalam lubang. Kurasakan ibu jarinya menggeser-geser di klitoris. Membuat aku semakin tak berdaya. Badanku lambung terhempas tak bisa menahan diri.

"Pleasee lick it, Dio.., Dio..",
Aku tergeletak di sampingnya. Menatap sayu, mengiba. Dio bangkit dan menarik CD-ku. Lepas. Sekarang giliranku merasakan jilatannya. Kubuka lebar pahaku.
"Ooughh..", jeritku keenakan ketika lidahnya menyentuh menjilat lubangku.
Seakan terbawa terbang ke awan. Kelaparanku terjawab. Nikmaatt.. Dibukanya lubangku dengan jarinya. Dimasukan lidahnya dengan rakus. Mulutnyapun bergerak liar.
"Aacchh..", badanku bergetar tak tertahankan.
Seperti kena setrum, setrum kenikmatan yang tiada tara menjalar ke sendi-sendi tulangku. Dio sangat menikmati vaginaku, bahkan dimasukkan hidungnya. Aku terkejut sesaat, tapi kemudian kudapati sensasi baru. Dio memintaku semakin menekan.
"Push.. pushh.., it hardd..", bagai kesetanan, Dio kemudian malah semakin jalang menjilat-jilat vaginaku, memakannya dengan rakus.
Aku semakin tak tahan akan kenikmatan itu. Semakin garang semakin membawaku ke titik puncak.., kurasakan ada yang menggedor-gedor ingin tertumpahkan..
"Dioo.., akuu.., keluaarr..", bersamaan dengan itu kurasakan cairan membanjiri lubangku.
"Aagghh..", Aku menggelinjang hebat.
Menghentak-hentak, entah apa yang mendorong tubuhku bergerak liar. Hingga kemudian aku terhempas lemas. Uffhh.., benar-benar nikmat. Kulihat Dio di bawah sana memandangku. Kuberi senyuman tanda terima kasihku. Dio benar-benar membawaku ke puncak kenikmatan hanya dengan jilatannya. He's great, he's really really great, girllss..

Kami masih berbaring di tempat tidur. Saling berpelukan. Kepalaku masih bersandar di dadanya yang bidang. Kemudian aku teringat kembali kenapa ia ingin ke kamarku. Aku bangun perlahan. Dengan bertelanjang berjalan perlahan, kuambil dildo dan oil dari tas.
"Nih dia.., coba deh.., elus-elus hehehe..", kusodorkan dildo ke arahnya.
"Itu untuk apa?", tanyanya sambil melihat oil.
"Supaya melicinkan jalan..", kerlingku nakal.
Aku rebahkan diri lagi di sampingnya.
"Gimana?", tanyaku ingin tahu.
Dio tersenyum, sambil terus memperhatikan dildo dengan teliti.
"Kamu nakal juga ya di tempat tidur", ujarku kemudian.
"Tapi suka kan..", ditaruhnya dildo dan oil dari tanganku di kasur.
"Bad boy sihh.."
"Kan bad boy nggak bakal jadi kalo nggak ada bad girl- nya", sambil tangannya mengelus-elus dadaku dan memberikan remasan
"Yee..", sahutku manja, mencubit putingnya.
"Hihihi.."
"Emang dasarnya aja udah bad bad bad boy", ujarku sambil sedikit bangun hingga bisa melihat wajahnya.
"Coba bilangnya deketan lagi?",
"Baadd boyy..", kudekatkan wajahku
"Lebih dekett.."
"Really BADD BOYY..", semakin dekat

Dio menarik dan mencium bibirku, lembut, penuh dengan perasaan. Lidahnya menari-nari di dalam mulut, bermain dengan lidahku. Sementara tangannya meremas pantatku perlahan. Ditidurkannya aku kembali ke sisinya. Ciumannya bergeser ke bawah, ke leherku. Dijilatnya perlahan. Kembali lagi ke telingaku, lidahnya menari-nari di dalam kuping. Dan menyedot perlahan ujungnya. Bikin aku melayang, birahiku bangun kembali. Kemudian elusannya di dada berubah menjadi remasan.

Ciumannya berlanjut turun ke pundak, ke dada. Diambilnya buah dadaku, putingku dijilatnya. Dijilat perlahan kemudian disedotnya kerass. Tangannya yang lain mengelus-elus vagina.
"Wwowww.. it's wett.., aku suka pussy kamu yang cepet basah.."
"Oouughh.." tanganku mengacak-acak rambutnya. Mengalirkan kenikmatan.
"Uughh..you're so hot NAUGHTY GIRL!"
"And you're so good with your fingers"

Jari Dio semakin lincah bermain di vaginaku, kini kurasakan 2 jari. Kubuka kakiku lebih lebar. Aku kembali terbang ke alam birahi. Kenikmatan yang kudapat di dada dan vagina sangat membuai. Tusukan jarinya semakin dalam kurasakan.
"Ugghh..", erangku keenakan.
Dio malah semakin mempercepat permainan 2 jarinya. Semakin cepat dan semakin menggelorakan tubuhku.
"Yess.., give me all..", erangku.
"Oohh, I like when you scream like that"
"Moree.., honey.., more.."
"Yeaa.. shiitt.. I want it.. I want it"
"Moree Dio pleassee.."
"aaghh.. want to fuck you. BAD GIRL!"
"Pleasse pleasse.."

Dio membalikkan tubuhku. Ditariknya pinggangku hingga posisi menungging. Dijilatnya vaginaku dari belakang kemudian ke lubang anus, kembali lagi ke vagina begitu berulang-ulang. Tak lama kemudian, dimasukkannya lidah ke lubang anusku.
"Feelss goodd..",
Lidah Dio berputar-putar di anus, sedangkan 2 jarinya masuk ke vagina. Aku semakin menikmati permainannya yang nakal. Eranganku semakin tak beraturan.
"Ooghh.., moree.., i want your dickk pleassee..", teriakku tak tahan lagi dengan permainan jarinya.
Dio mengarahkan batangnya ke vaginaku yang sudah basah. Dimainkannya sebentar di pintu lubang, kemudian..bless.., oughh.., nikmatt. Digoyangnya perlahan. Diusapnya pantatku, diremas-remasnya. Kemudian kurasakan jarinya yang basah ke lubang anusku. Kembali kuingat ceritaku di 17Tahun.com, benar-benar Dio ingin mempraktekkan apa yang dibacanya.
Perlahan jarinya masuk ke anusku, sementara genjotan di lubang vaginaku terus berlanjut. Aku merasakan lagi 2 kenikmatan sekaligus. Tubuhku bergoyang mengikuti irama sodokannya. Semakin lama semakin keras. Seirama jarinya yang semakin lama semakin dalam menancap di anusku.
"More more moree..", teriakku semakin tak beraturan

Dio kembali terbawa nafsu birahi. Dikeluarkan jari dan batangnya. Diambilnya oil kemudian dioleskan di lubang anusku. Diarahkannya dildo dan dimasukkannya perlahan.
"Aagghh.. yess..", erangku menahan kenikmatan.
"Yeaa.. you like it? Dildo in your hole?!", serunya semakin membuatku terbawa arus birahi. Digerakkannya dildo di anusku, sementara 2 jarinya mengganti batangnya bermain di lubang vaginaku.
"More.., more.., fuck mee..",
"YOU BITCH! FeeL IT!", pekiknya
"Fuck my 2 holes.. HARDD!", sambungnya terbawa nafsu.
"Oohh goshh..", erangku tak tertahankan.
Gerakannya semakin kacau, semakin terbawa nafsu. Semakin keras, dan aku semakin menikmati. Semakin kutunggingkan pantatku, ingin merasakan lebih. Semakin keras didorongnya dildo ke dalam anusku, semakin menerbangkanku ke alam penuh birahi.
"Fuck me.., fuck all the way u want.."

Nafsu birahipun semakin menguasai kami. Dio mencabut dildo dari anusku, diusapkannya lagi sedikit oil, diarahkan batangnya ke anusku. Didorongnya perlahan, kemudian dengan sekali hentakan, kurasakan seluruh batangnya masuk ke anus.
"Ooughh..", nikmat .
"Oougghh..my godd so greatt.. your ass so HOT!"
Sangat nikmat. Tak terkirakan rasanya. Dio seakan merasakan sensasi yang menyengat, gerakannya menjadi liar. Akupun terbawa nafsu birahinya. Walaupun anusku yang kemasukan batangnya, vaginaku malah semakin basah tak terkira. Kumainkan jariku di klitoris dan lubang vagina. Kuusap kacau, kutusuk-tusuk, semakin lama semakin tak terkendali. Aku semakin menggila dibuatnya.

"Aagghh..", aku tercekat terserang kenikmatan yang tiada tara.
Birahi kembali menguasai jiwa dan ragaku. Diopun semakin liar, semakin ganas menusukkan batangnya. Gerakannya begitu ganas, mencekat rongga kenikmatanku.
"Dioo.., agghh..", aku tak tahu apa yang ingin kukatakan.
Badanku kembali dirasuki jilatan ekstasi yang dahsyat. "Dioo..", semakin aku menyebutkan namanya, semakin ganas sodokannya.
"Dio.., aku mauu..", gedoran magma semakin kurasakan.
"Dioo.."
"Tunggu sayangg.., aku jugaa..", terbata-bata di tengah kenikmatan.
Gerakannya semakin cepat, semakin liar, semakin ganas. Kurasakan lubang anusku semakin membesar. 2 tangan Dio menahan pinggangku erat. Seakan ingin menumpahkan yang tertahankan.
"Dioo.., ke.. lu.. aarr..", tak tahan lagi.
"Aku jugaa.. aaghh..".
Kurasakan kemudian semprotan-semprotan di anusku. Tak bisa kugambarkan bagaimana nikmatnya. Dio masih menahan posisiku menyelesaikan semprotannya. Lemas rasanya. Akhirnya kami sama-sama roboh tergeletak di kasur.

Hanya hening yang menyelimuti kami. Setruman-setruman kenikmatan masih kurasakan. Kututup mataku ingin menikmati lebih dalam. Ouhh.., sungguh nikmat. Hingga akhirnya kami tertidur. Tanpa sempat mengucapkan selamat malam. Bahkan tak sempat saling mengeluarkan kata-kata. Kami tertidur dalam kenikmatan.

Entah apa yang membangunkanku, kubuka mata sambil melenguh dan kulihat Dio sedang memandangiku. "Selamat pagi", ucapnya sambil memberikan kecupan.
"Pagi..", aku masih setengah sadar. Kuusap-usap wajahku, membangunkan diri.
"Enak tidurnya?", tanyanya sambil menarik tubuhku ke dalam pelukannya
"Iyah.. hauw..", sambil menguap kecil.
"Kamu?"
"Enak dong, sayang. Apalagi abis main sama kamu", kecupan-kecupan kecil mendarat halus di wajah.
"Iihh.., udah dong. Malu ah.., bau nih. Mandi yuk".
Pelukannya terlepas cepat.
"Yuk.."
"Huu.., cepet deh kalo diajak mandi", sambungku manja.