Cerita Penelitianku Bersama Mbak Sri 2

Setelah aku kehabisan bahan dan telah kukorek semua kepribadian Sri, aku lalu minta izin sama Sri untuk masuk buang air kecil sekaligus untuk memastikan keadaan istriku apa ia tidak mengintip atau mencurigai kami dalam kamar kerjaku, meskipun pintu ruanganku sengaja kubuka agar tidak ada rasa curiga dari istriku. Ternyata anak dan istrikut telah tertidur semua di depan TV, sebab kebiasannya memang suka tertidur ketika nonton. Aku sedikit lega dan merasa ada peluang untuk sedikit bereaksi bersama Sri setelah kuketahui kelemahannya. Karenanya, setelah buang air kecil, aku segera masuk dan duduk kembali seperti semula di samping kiri Sri, namun aku sengaja mendorong sedikit pintu agar tidak terlalu terbuka tanpa dilihat oleh Sri.

"Ayo kita lanjutkan sedikit Sri mumpung masih belum larut malam," kataku sambil sedikit bergeser ke arah kursi Sri.


"Begini Sri?" tanyaku dengan tekanan suara yang mulai rendah sambil memperlihatkan sebuah pertanyaan lagi dengan kalimat "Apa pacarmu pernah mengelus-elus pahamu?".


Sri lalu menjawab, "Ya". Namun ia sangat kaget dan tersentak sejenak ketika aku bertanya,


"Seperti ini?" sambil kupegang dan kuelus pahanya yang dilapisi celana panjangnya yang agak tipis dan halus kainnya.


"Yyya.. Ah.. Titidak" jawabnya seolah ketakutan.

Bahkan sempat bergeser dan bermaksud menjauh dariku ketika aku menulis pertanyaan, "Pernahkah pacar anda meremas payudaranya?" lalu kuperlihatkan Sri sambil berkata, "Begini Sri?" sambil aku berbalik menghadap padanya dan segera meremas kedua payudaranya dari luar bajunya.

Kali ini ia tidak melepas kedua tanganku dari payudaranya, tapi ia mencoba berdiri lalu menengok keluar ke arah istriku seolah ia hanya takut sama istriku.

"Tenang Sri, istri dan anak-anakku sedang tidur," bisikku pada Sri ketika ia mencoba menghindar dari perlakuanku, namun ia duduk kembali setelah melihat dengan jelas istriku sedang tidur pulas di depan TV melalui celah pintu yang sedikit terbuka.


"Kenapa harus sampai begini kak? Aku malu, takut dan tidak biasa diperlakukan seperti ini" tanyanya padaku dengan suara sedikit berbisik namun cukup mengerti kalau kami harus bertindak super hati-hati.


"Maaf dik, jika ini terpaksa harus kita lakukan di tempat ini, bukankah adik sendiri yang telah berjanji akan memberikan pengorbanan sesuai kemampuannya asal penyusunan karya ilmiahnya berjalan lancar?" kataku terus terang dan mengingatkan janjinya.


"Wah, ternyata kak menafsirkan sampai ke situ. Aku nggak pernah berpikir sampai ke hal itu kak, tapi.. " katanya seolah tidak tahu arahku ke situ. Namun aku yakin ia tidak bakal menolak tindakanku lebih jauh karena Sri tiba-tiba berucap "tapi.." yang menandakan adanya peluangku lebih jauh.

Aku sudah berhenti membuat pertanyaan tertulis di layat komputer dan Sri pun meletakkan buku yang dibacanya sejak tadi. Kini kami saling berhadapan dan saling mengerti perasaan serta berkomunikasi langsung, namun suara kami sangat kecil, sehingga hanya kami berdua yang bisa mendengarnya. Kami tentu harus waspada dan takut ketahuan oleh istri jika tiba-tiba ia terbangun. Kami betul-betul berani memanfaatkan kesempatan yang beresiko dan sempit itu.

Sambil mengawasi terbangunnya istri yang sedang tidur, kami juga mengurangi bisikan dan komunikasi. Bahasa yang kami gunakan adalah mimik atau isyarat. Takut sekali bersuara. Tanganku mulai memegang paha Sri dari luar celananya, memegang kedua payudaranya yang terbungkus, merangkul dan mencium pipi lalu leher dan singga di bibirnya. Aku sedikit menikmati kecupan bibir Sri yang menyambut serangan bibir dan lidahku di mulut sampai rongga mulutnya.

"Sri, kita tidak boleh menunda-nunda permainan ini. Kita harus segera tuntaskan siapa tahu istri saya terbangun lalu heran kenapa nggak ada suara-suara kita seperti tadi. Ayo bantu aku dik," bisikku di telinga Sri ketika aku dan mungkin Sri juga terangsang, apalagi tiba-tiba diliputi rasa takut.


"Yah kak, aku takut sekali. Cepat-cepat selesaikan kak," balas Sri seolah menerima baik tindakanku ini.

Sri segera membuka 2 kancing bajunya untuk memberi kesempatan agar aku segera meremas susunya dan mengisap putingnya yang nampak tegang kecoklatan. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini dan segera meraih bukit kembar yang putih mulus itu. Sangat mungil karena belum pernah dijamah oleh pria lain kecuali hanya pacarnya yang pernah meremasnya dari luar bajunya, apalagi usianya baru berkisar 20 tahun. Setelah aku puas menjilat, mengisap dan memainkan bukit kembarnya, tanganku berpindah ke bawah yang sudah mulai ada jalan masuk karena telah terbuka kasper celananya dari depan, sehingga tanganku dengan mudah meraba, mengelus dan menekan biji daging yang terasa bergetar-getar yang ada di antara kedua bibir bawahnya.

Karena sepakat akan menuntaskan seluruh permainan kami di kamar kerjaku itu, maka wajar jika kami saling membantu dan memudahkan terlaksananya hajat kami. Tanpa kuminta, Sripun melorot sedikit celananya hingga di atas lututnya. Aku tak sempat melihat apa Sri memakai celana dalam atau dilorit bersama celana panjangnya, tapi yang jelas paha mulus lagi putih itu terlihat dengan jelas, bahkan sampai ke batas pinggangnya. Namun Sri masih tetap dalam posisi duduk berhadapan denganku, sehingga aku sulit melihat dengan jelas barang mewah yang ada di selangkangannya tapi aku bisa meraba dan memainkannya dengan mudah. Mulutku akrab menempel di payudara kirinya, sementara tangan kiriku melekat di payudara kanannya dan tangan kananku tak mau pisah dengan sebuah daging yang tertancap pada dua bibir bawah di antara selangkangannya.

"Sssttt... Aahhh... Khkh... Cceeepat kak selesaikan, aku sudah nggak tahan nih," bisik Sri ditelingaku ketika aku semakin memainkan mulut dan tanganku pada kedua alat sensitifnya itu sambil berusaha menurunkan sedikit celananya hingga lutut.


"Sabar dik, aku nggak mau rasanya berhenti dan ingin menikmati sampai pagi," bisikku sambil mempercepat gerakan tangan dan mulutku.

Namun Sri mencubit pinggangku lalu ia segera berdiri dan kedua tangannya langsung membuka ikat pinggang berikut kait serta kasper celanaku dengan lincah sekali. Setelah terlepas, kedua tangannya segera menurunkan celanaku, namun sedikit tertahan karena aku masih duduk di atas kursi, tapi aku sangat mengerti sehingga aku mengangkat pantat untuk memudahkan ia menurunkan celanaku hingga lutut. Tanpa disentuh dan digocok, penisku dengan sendirinya berdiri mengacung bagaikan kepala ular berbisa yang mau mematuk mangsanya. Tanpa perintah atau komando, Sri tiba-tiba duduk di antara kedua pahaku dan meraih ujung penisku lalu mengarahkan ke lubang memeknya yang sedikit basah dan licin itu, lalu merangkul leherku. Ia mulai menggoyang sedikit pinggulnya ke kiri dan kekanan agar penisku dapat dengan mudah masuk ke lubang sasarannya, namun agak sulit. Selain karena vagina Sri ditumbuhi bulu hitam yang cukup lebat, juga memeknya kuyakini belum terbiasa dimasuki benda tumpul seperti yang kami usahakan masuk saat ini.

Aku mencoba membantu untuk memasukkannya dengan memegang penisku serta membuka kedua bibir memeknya dengan kedua tanganku, tapi belum bisa amblas meskipun separohnya sudah mulai masuk dan kurasakan senti demi senti melejik ke dalam, apalahi gerakan pinggul dan tangan Sri tidak mau berhenti. Aku sebenarnya masih ingin menikmati permainan kami dengan lama sekali, tapi tiba-tiba terpikir akan terbangun istriku karena suara kaki kursi plastik yang selalu bergerak-gerak seiring dengan gerakan kami, maka aku konsentrasi lagi untuk menuntaskannya dengan segera. Gerakan pinggulku mengikuti gerakan pinggul Sri dan kami saling menekan masuk hingga akhirnya bisa amblas seluruhnya. Bunyi decak, decik, decukk, cak.. cikkk.. cukkk pun cukup menyela keheningan malam itu, yang membuat aku semakin khawatir istriku terganggu dan terbangun, sehingga kami mengatur kembali gerakan.

Meskipun pakaian kami hanya terbuka sedikit sekali dan gerakan serta suara kami sangat terbatas, namun cukup bisa kami nikmati permainan kami itu. Bahkan belum pernah kurasakan kenikmatan seperti itu dari istriku. Mungkin karena ini hasil curian atau karena ketidak leluasaan kami yang membuat permainan kami lebih nikmat dan lebih berkesan. Kembali lagi Sri menghentak-hentakkan pantatnya ke pahaku seiring dengan keluar masuknya penisku ke dalam vaginanya, bahkan ia seolah tak sadarkan diri lagi dan gerakannya semakin dipercepat ketika aku mencoba mengangkat sedikit pantatku agak masuknya lebih dalam lagi.

Tanpa berkata apa-apa, Sri terasa gemetar sekujur tubuhnya dan keringatnya yang bercampir dengan keringatku jatuh membasahi kursi tempat dudukku. Akupun mengerti kalau Sri sudah berada di ambang pintu kenikmatan yang luar biasa, maka aku mencoba menahan cairan hangat yang juga mulai terasa menjalar ditubuhku dan mendesak mau keluar lewat penisku. Sri tiba-tiba merangkulku dengan keras, menggigit sedikit bahuku dan mencakar-cakar punggungku, lalu terasa lemas lunglai.

Ketika Sri terasa lemas seolah kehabisan tenaga, aku yakin kalau ia sudah melewati klimaksnya. Kini giliranku untuk mencapainya, lalu aku segera mengangkat tubuh Sri dan memutar sehingga posisi membelakangiku. Mau tidak mau ia terpaksa pegangan di didinding kamar, lalu kutekan sedikit kepalanya agar ia lebih nungging lagi. Setelah terlihat lubang kenikmatannya dengan jelas, aku segera arahkan penisku masuk ke dalamnya dan menekannya agar masuk lebih dalam, lalu kugenjot dengan keras dan cepat bolak balik maju mundur hingga akupun merasakan ada cairan hangat yang kental tumpah ke dalam lubang kenikmatan Sri.

Aku sengaja dan tidak takut akibatnya, sebab zat Sri yang bakal membuahi sudah keluar sejak tadi, sehingga tidak mungkin bisa ketemu dan terbuahi. Hal itu kuyakini sesuai praktek kami bersama istri selama ini. Setelah kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan, kami lalu berpelukan sejenak dan saling memberi kecupan sebagai tanda terima kasih dan saling puas. Tanpa menunda waktu sedetikpun, kami segera memperbaiki kembali posisi pakaian kami masing-masing seperti semula lalu duduk sejenak sambil berpandangan dengan senyum puas dan bahagia yang kami rasakan.

Kami sudah tidak konsentrasi lagi terhadap karya ilmiah dan penelitian yang sedang kami proses. Bahkan sebelum istriku bangun, Sri minta izin untuk pulang, tapi aku sempat membisikkan sebuah kalimat di telinganya.

"Sudah mengerti yang namanya selingkuh sayang? Inilah bukti selingkuh yang sebenarnya dan data inilah yang paling otentik dari semua hasil penelitian kita, karena sama sekali bukan rekayasa melainkan betul-betul berdasarkan fakta dan pengalaman nyata kita sendiri," bisikku sambil memberi ciuman terakhir dan merangkulnya sekali lagi dengan eratnya.

Sri hanya membalas dengan senyum dan sedikit cubutan di pinggangku. Sri pun melangkah keluar lalu naik ke motornya seolah penuh bahagia.

*****

Bagi teman-teman yang tertarik dengan kisah nyataku ini, silahkan ikuti perkembangannya, sebab boleh jadi pengalaman ini akan berlanjut terus. Peristiwa yang kuceritakan ini baru awal dan pemanasan, karena hanya kebetulan dan kesempatan kami sangat sempit. Karena itu, meskipun kami belum janjian untuk mengulanginya, tapi mesti kami usahakan mengulangi dalam waktu singkat di tempat yang lebih aman, bebas dan waktu yang tak terbatas. Apalagi karya ilmiahnya masih sementara dalam proses, sehingga kami akan terus berkomunikasi dan saling memberi kenikmatan.